Senin, 27 September 2010

timbulnya perilaku menyimpang pada anak di dalam keluarga

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Keluarga merupakan suatu kesatuan terkecil di dalam masyarakat yang menentukan keberhasilan seseorang, keluarga, masyarakat bahkan negara semua itu dimulai dari keluarga. Keluarga memiliki beberapa fungsi salah satunya adalah memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua anggotanya. Bila seorang anak tidak merasa nyaman dalam keluarganya, maka akan timbul beberapa permasalahan yang tidak sedikit akan memberikan akibat buruk yang patal terutama dari faktor psikologis seseorang tersebut. Dalam jurnal ini kami akan membahas tentang “timbulnya perilaku menyimpang pada anak di dalam keluarga”.
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Keluarga juga dipandang sebagai institusi yang dapat memenuhi kebutuhan insani, terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia.





1.2 Perumusan masalah :
Berdasarkan latar belakang seperti telah diuraikan di depan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “bagaiman timbulnya perilaku menyimpang pada anak di dalam keluarga?”
1.3 Tujuan Masalah
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memehami bagaimana timbulnya perilaku menyimpang pada anak di dalam keluarga ?
1.4 Metode penelitian
Adapun metode penyusunan jurnal ini adalah mengguanakan metode :
Observasi
1. Wawancara secara tidak langsung
1.1 Manfaat Makalah
Manfaat yang diharapkan dalam Makalah ini adalah
1. Manfaat Teoritis
Untuk membuktikan kebenaran hipotesis tindakan yang telah diajukan dalam makalah ini dan pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai sumbangan pemikiran terhadap dunia pendidikan dalam rangka pemahaman tentang timbulnya perilaku menyimpang pada anak di dalam keluarga.
b. Sebagai bahan pertimbangan dan acuan bagi penulis yang akan melakukan pembuatan makalah.


PEMBAHASAN
Keluarga merupakan kelompok unit sosial terkecil dalam suatu masyarakat yang anggotanya terdiri atas ayah, ibu, anak dan mungkin anak saudara. Keberadaan suatu keluarga memberikan kemungkinan untuk terjadinya interaksi antara anggotanya. Jika interaksi ini berlangsung baik maka para anggotanya akan kerasan (at home), sebaliknya juga interaksi para anggota keluarga kurang baik, maka keluarga hanya akan menjadi tempat tinggal tanpa makna bagi perkembangan para anggotanya.

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Keluarga juga dipandang sebagai institusi yang dapat memenuhi kebutuhan insani, terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia.

Situasi keluarga yang memungkinkan timbulnya perilaku menyimpang pada anak diantaranya adalah:

a. Disharmoni dalam keluarga dan rumah tangga berantakan
Rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ibu atau bapak, perceraian diantara mereka, hidup terpisah, poligami, ketidak cocokan dan sering konplik, merupakan sumber munculnya penyimpangan tingkah laku pada anak .

1) anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntutan pendidikan orang tua karena bapak atau ibu masing-masing sibuk mengurusi permasalahannya serta konplik batin sendiri. Akibatnya anak kurang peka dan menimbulkan perasaan hampa kasih sayang karena sejak kecil anak tidak pernah diperkenalkan dengan kasih sayang, kelembutan, kebaikan dan perhatian. Anak diabaikan dan tidak diperhatikan secara kejiwaan, sehingga kehidupan perasaannya tidak berkembang, bahkan mengalami proses penumpulan.

2) Kebutuhan anak baik kebutuhan fisik maupun psikhis tidak terpenuhi secara wajar. Anak menjadi terlantar karena tidak ada kasih sayang yang konsisten sejak bayi. Anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua merasa dirinya kurang aman, merasa kehilangan tempat berlindung. akibatnya anak menjadi pendiam, menarik diri, merasa diri hampa atau sebaliknya menjadi agresif dan keras kepala menentang orang tua. Akhirnya sering keluar rumah, hidup bergelandangan, tidak mempunyai tujuan yang jelas, lalu terlibat dengan perbuatan kriminal dengan tujuan ingin menarik perhatian orang lain termasuk perhatian orang tuanya sendiri. Sikap lain yang ditunjukan anak terhadap ketidakpuasan bagi orang tuanya adalah dengan melawan atau memberontak sambil melakukan tindakan tindakan merusak. Konplik batin yang berkepanjangan serta frustasi yang terus menerus akan menimbulkan tindakan agresi, seperti melakukan serangan-serangan kemarahan terhadap dunia sekitar, mengganggu lingkungan, bolos sekolah, melawan guru, mencuri. Ataupun melakukan tindakan-tindakan sebaliknya seperti masa bodoh, diam, menarik diri dan tidak peduli dengan lingkungan, bahkan sama sekali tidak ingin berkomunikasi dengan orang tuanya sekalipun. Hal ini dilakukan sebagai pelampiasan rasa tidak puas dan pelepasan bagi ketegangan-ketegangan, kerisauan, sakit hati, frustasi dan dendam. Sikap lain yang ditunjukan adalah lari dari rumah dan berkumpul bersama teman-teman senasibnya yang merupakan gang kriminal.

3) Anak yang tidak dibiasakan dengan disiplin dan kontrol diri yang baik di rumah sesuai dengan norma-norma yang ada dalam kehidupan masyarakat maunpun norma-norma agama. Hal ini disebabkan karena ibu atau bapak atau keduanya tidak dapat menjalani fungsinya dengan baik bagi pendidikan anak. Mereka kurang mendapat latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan dalam kehidupan.

b. Pola kriminal orang tua
Kebiasaan, sikap hidup, tradisi dan filsafat hidup orang tua besar sekali pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian anak dalam keluarga. Karena itu tingkah laku kriminal orang tua sangat mudah menular kepada anak-anaknya. Orang tua yang suka marah, sewenang-wenang, agresif, dan meledak-ledak akan timbul iklim psikhis yang tidak menyenangkan. Dan ini dapat merangsang reaksi emosional yang impulsif kepada anak-anaknya. Tingkah laku orang tua asusila dan kriminal itu akan memberikan dampak negatif terhjadap anggota keluarganya. Pola kriminal ayah atau ibunya atau salah satu anggota keluarga lainnya. Kualitas dari agresifitas kebiasaan keluarga yang tidak terpuji. Sebagai akibat dari kebiasaan itu, anak tidak terbiasa dengan norma-norma dalam pergaulan hidup yang umumnya berlaku. Kebiasaan orang tua berlaku curang dan munafik, sombong, sangat mudah ditiru.
c. Keadaan ekonomi keluarga
Gangguan tingkah laku anak dapat juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarga, baik dari kalangan rendah maupun di kalangan ekonomi tinggi. Hal ini mungkin terjadi karena orang tua mereka terlalu sibuk dengan urusannya sehingga perhatian dan kasih sayang terabaikan.
d. Sikap orang tua
Sikap menolak ini bisa disebabkan oleh:
1) Perkawinan yang tidak bahagia; anak yang dilahirkan dalam kondisi rumahtangga yang rusuh dan tidak damai sehingga anak itu yang menjadi sasaran kesalahan orang tua. Akibatnya anak sering menerima perlakuan yang tidak baik dari kedua orang tuanya, diantaranya menolak keberadaan di dalam keluarga.
2) Kehadiran anak yang tidak diharapkan di dalam keluarga karena rupa jelek,bodoh, cacat atau anak yang lahir sebelum pernikahan yang dianggap membawa aib bagi keluarganya. Sikap orang tua yang menolak dapat dilihat dari perlakuan:
a) Anak kurang diperhatikan dalam makanan, pakaian dan sekolah.
b) Kurang sabar terhadap anak.
c) Menghukum anak secara berlebihan
d) Perlakuan yang berbeda dengan saudara-saudaranya
e) Sering mengeluarkan perkataan nada mengusir
Dampak perlakuan tersebut anak merasa tak bahagia dan sering menimbulkan konplik batin dan frustasi yang terus menerus dan tidak jarang bertingkah laku agresif. Timbul keinginan untuk membalas dendam atas perlakuan orang tua yang dirasakan anak sangat menyakitkan. Anak menjadi egoistis, tidak mau menurut dan suka bertengkar karena ingin menarik perhatian. Ia merasa dengan berkelakuan baikpun tidak mendapat perhatian dan kasih sayang, maka ia berusaha mencari jalan lain yang menjengkelkan serta mengganggu lingkungan.
3) Perlindungan yang berlebihan (everprotection) karena:
a) Perkawinan yang sudah berlangsung lama dan baru memperoleh keturunan.
b) Kehadiran anak tunggal, anak satu-satunya dalam keluarga sehingga menjadi pusat perhatian seluruh keluarga.
c) Anak satu-satunya laki-laki atau perempuan diantara saudaranya.
d) Anak yang mempunyai kelainan.

B. Upaya pengangulangan prilaku yang menyimpang
a. Sedini mungkin (sebelum anak masuk taman Kanak-Kanak) mengajak anak untuk berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, paedagog, dokter anak, atau neurolog.
b. Mengupayakan mendapatkan buku-buku petunjuk tentang cara-cara membimbing anak yang bermasalah tingkah laku.
c. Mendoakan anaknya dan sedini mungkin mendekatkan kepada Tuhan, dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
d. Orang tua memberikan contoh tingkah laku yang diinginkan dari anak atau menjadi model setiap hari.
e. Mengikuti dan mel;aksanakan petunjuk-petunjuk dari para ahli yang terkait dengan anak tunalaras.
Selain upaya di atas dalam menghadapi kenakalan anak, orang tua dapat mengambil
dua tindakan atau sikap yaitu tindakan preventif yang bertujuan untuk menjauhkan anak
dari perbuatan buruk, atau dari lingkungan pergaulan yang buruk. Dan tindakan atau sikap
represif yang bertujuan untuk mengadakan rehabilitasi atau reeducation pada anak nakal.
Dalam hal yang bersifat preventif, pihak orang tua dapat memberikan tindakan:
1) Memberikan rasa disiplin dari orang tua
2) Memberikan pengawasan dan perlindungan terhadap anak
3) Pencurahan kasih sayang dari orang tua
4) Menjaga agar tetap terdapat suatu hubungan yang bersifat intim dalam satu ikatan
keluarga
Sedangkan sikap yang bersifat represif hendaknya mengambil sikap:
1) Mengadakan intropeksi sepenuhnya akan kealpaan yang telah/pernah dilakukan
sehingga menyebabkan anak terjerumus ke dalam tindakan kriminal
2) Memahami sepenuhnya akan latar belakang dari masalah kenakalan yang menimpa
anaknya
3) Meminta bantuan para ahli di dalam mengawasi perkembangannya
4) Membuat catatan perkembangan anak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar